Minggu, 10 Oktober 2010

YAYASAN KANISIUS (Bagian I)

Di Suatu Masa………
Pada tanggal 21 Oktober 1918, di kediamannya di Cipanas, Gubernur Jenderal Hindia Belanda menandatangani akte pendirian Canisius Vereniging dan dengan demikian memberikan status hukum resmi kepada Vereniging tersebut.
Dalam status Vereniging tersebut ditulis sebagai tujuan (art.2) yaitu mendirikan dan menyelenggarakan badan amal kristiani, khususnya dengan sekolah-sekolah, rumah sakit, dan seterusnya. Tanggal itu dipakai sebagai permulaan dari karya pendidikan Kanisius. Walaupun sudah ada beberapa sekolah Kanisius yang didirikan sebelum Vereniging itu lahir.
A. PENGANTAR
Yayasan Kanisius adalah lembaga pendidikan yang menyelenggarakan sekolah-sekolah mulai dari TK sampai dengan SLTA.
Sekolah-sekolah tersebut tersebar di wilayah Keuskupan Agung Semarang. Kebanyakan berada di daerah pedesaan. Beberapa yang berada di kota ditemukan di kampung-kampung, tempat pemukiman rakyat biasa.

Yayasan Kanisius merupakan lembaga pendidikan tertua di Jawa. Didirikan di Muntilan pada tahun 1918 sebagai “CANISIUS VERENIGING”, yang berarti Perkumpulan Kanisius. Selanjutnya pada tahun 1927 karena alasan-alasan praktis diubah statusnya menjadi “CANISIUS STICHTING”, yang berarti YAYASAN KANISIUS.

Pada saat didirikan (1918) Yayasan Kanisius menjadi milik Vikariat Apostolik Batavia. Pada tahun 1940 diserahterimakan kepada Vikarikat Apostolik Semarang. Ketika itu Vikarikat Apostolik Semarang baru saja dibentuk dengan Mgr. Albertus Soegija Pranata SJ sebagai Vikaris Apostolisnya. Sejak didirikannya Yayasan ini dipercayakan kepada Serikat Yesus.

Yang mendirikan dan “membidani” kelahirannya ialah Rama Fransiskus van Lith SJ. Seirama dengan perkembangan Yayasan Kanisius berkembang pula Gereja ke pelosok-pelosok wilayah Keuskupan Agung Semarang.

B. AWAL MULA
Pada tahun 1927, Rama F. van Lith menerima tugas perutusan dari Superior Missionis untuk mengembangkan Gereja di kalangan pribumi Jawa. Dalam mengemban perutusan itu, Rama F. van Lith memilih Muntilan sebagai induk pangkalnya. Sebuah rumah di dekat jalan besar di pecinan, Muntilan disediakan bagi Rama van Lith untuk menjalankan karyanya. Namun tidak lama kemudian beliau membeli sebuah rumah dengan halaman milik seorang Jawa di desa Semampir. Rama van Lith memilih demikian karena merasa lebih cocok tinggal di tengah orang-orang Jawa.

Rama van Lith bekerja dengan mengunjungi daerah-daerah yang tersebar di daerah Kedu di sekitar Muntilan, di Kulon Progo, Yogyakarta serta di Bedono dan Ambarawa. Hasilnya mengecewakan. Sebab ternyata katekis di Muntilan seorang pecandu dan penipu. Katekis itu diserahi tugas membeli tanah untuk kuburan katolik, tapi uangnya digunakan untuk membeli sawah bagi dirinya sendiri. Sementara katekis yang ada di Keringan, dekat Magelang memelihara dua isteri.

Pengalaman tersebut mendorong Rama van Lith untuk mengubah strategi : mendidik guru. Sebab menurut beliau, guru adalah tokoh masyarakat desa yang paling berpengaruh dan berwibawa. Maka pada tahun 1904, Rama van Lith mendirikan Normaalschool, untuk mendidik calon guru sekolah tingkat II (Standaardschool). Pada tahun 1906 disusul H.I.K putra (6tahun) untuk mendidik calon guru tingkat I sekolah dasar (H.I.S. dan H.C.S) 7 tahun. Kedua sekolah tersebut bertempat di Semampir, Muntilan. Selanjutnya H.I.K. 6 tahun berkembang menjadi Kolese Yesuit pertama di Indonesia dengan nama Kolese Xaverius. Pandangan Rama van Lith yang jauh kedepan mengenai pendidikan guru ini mendorong beliau meminta kepada Suster-suster St. Fransiskus untuk mendirikan sekolah pendidikan guru putri. Maka pada tahun 1908 dibuka asrama putri Mendut. Asrama itu lambat laun berkembang menjadi H.I.K putri, yang diresmikan pada tahub 1916. Antara kedua sekolah itu diusahakan kontak terbatas dan terbina. Kunjungan dan kontak yang terbina itu di kemudian hari ternyata bisa menghasilkan banyak pasangan suami isteri yang berbahagia.

Guru-guru lulusan Muntilan dan Mendut menjadi ragi pertama yang merasuk dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Dari Kolese Xaverius lahir juga tokoh-tokoh yang memiliki peranan pada panggung nasional. Beberapa nama yang bisa kita sebut : Bp. Ig. Kasimo, Bp. Frans Seda, Bp. H.J. Soemarto, Bp.J. Soedjasmin. Kolese Xaverius juga menghasilkan tokoh seperti Mgr. Albertus Soegiyapranata SJ, Justinus Kardinal Darmojoewono, Mgr. Adrianus Djajasepoetra SJ, Rama B. Soemarno SJ, Br. Servaas FIC.
Pada tahun 1906 didirikan “Vereniging (perkumpulan) R.C. Kweekschool”. Perkumpulan yang berkedudukan di Muntilan ini mengelola NormaalSchool dan H.I.K putra Muntilan, H.I.K putri Mendut dan Normaalschool putra dan putri di Ambarawa, beserta sekolah-sekolah latihanya. Normaalschool putra di Ambarawa dikelola oleh Yesuit dan menjadi Kolese Santo Yusup. NormalSchool putri dikelola oleh Suster-suster St. Fransiskus.

Rama van Lith belum puas. Menurut Rama van Lith setelah Gereja memiliki sekolah pendidikan guru, sudah matanglah untuk juga mendirikan sekolah-sekolah Katolik. Memang, alumni Muntilan dan Mendut tersebar di belbagai sekolah-sekolah Negeri. Pengaruh kekatolikan mereka jelas ada, tapi masih terbatas. Rama yang dijiwai oleh semangat “magis” (yang lebih baik) bermaksud mengembangkan bakat mereka sebagai pendidik yang lebih leluasa. Semangat itulah yang melahirkan usaha mendirikan sekolah-sekolah katolik.

Jadi dengan mendirikan sekolah-sekolah Katolik Rama F.van Lith bermaksud:
1. Menabur Sabda Kristus di dalam masyarakat Jawa melalui guru-guru yang digembleng sendiri. Rama F.van Lith memiliki keyakinan bahwa melalui pendidikan di sekolah Katolik pengembangan iman Katolik akan berjalan lebih efektif dan lebih berhasil, terutama dalam hati anak didik. Tetapi unit sekolah juga bisa member pengaruh pada orang tua. Dan itu berarti adalah masyarakat sendiri.

2. Memberi kesempatan belajar kepada anak-anak rakyat kecil di desa dan di kota, yang tidak mendapatkan kesempatan belajar. Rama van Lith prihatin melihat keterbelakangan pendidikan masyarakat Jawa, yang pada waktu itu masih kurang sekali mendapar perhatian dari Pemerintah Hindia Belanda. Sementara dalam diri anak sendiri ada hasrat untuk mendapat kesempatan menimba ilmu dan pengetahuan, yang bisa mengentaskan diri dari belenggu keterbelakangan.


Untuk mewujudkan kedua tujuan itu pada tanggal 31 Agustus 1918 di Muntilan didirikan “CANISIUS VERENIGING” atau Perkumpulan Kanisius. Rama J.H.J.L. Hoeberechts SJ, manjadi ketua dan Rama F. van Lith SJ sebagai sekretarisnya. Rama J.H.J.L. Hoeberechts SJ pada saat itu menjabat Superior Missionis serikat Yesus (mei 1918 – Juni 1927). Pengesahan Pemerintah diperoleh dengan keputusan Gubernur Jendral Hindia Belanda di Cipanas pada tanggal 21 Oktober 1918 yang dicantumkan dalam Lembaran Negara 1918 no. 11, serta diumumkan dalam Javasche Courant pada tanggal 3 Desember 1918 no 97.

Selanjutnya direncanakan untuk membuka 100 sekolah Katolik, tersebar di Muntilan dan sekitarnya, di daerah Yogyakarta, Klaten, Surakarta, Ambarawa dan Semarang.

Pada tahun 1925, Rama van Lith terpaksa ditugaskan ke Semarang karean kesehatannya. Sebagai sekretaris beliau diganti oleh Rama J. Van Baal SJ. Rama van Lith meninggal dunia di pastoran Gedangan pada tanggal 9 Januari 1926 pagi hari. Hari itu juga sore hari, jenasah dimakamkan diantar oleh ribuan alumni dan umat, di Muntilan. Dalam Claverbond Frater A. Soegiyapranata menulis in Memoriam (untuk dikenang) dan mengatakan bahwa Rama van Lith berhasil menyusup dalam jiwa orang Jawa karena cintanya yang besar dan pengertianya yang mendalam.

Pada saat Rama F. van Lith meninggal seolah-sekolah Kanisius sudah berjumlah 74 sekolah. Semuanya merupakan tingkat sekolah dasar.

Berkat visi dan perjuangan Rama van Lith, Gereja Indonesia pada umumnya dan di Pulau Jawa khususnya mendapat coraknya yang menentukan perkembangannya sampai sekarang. Gereja berkembang terutama karena dengan melalui sekolah-sekolahnya. Tidak hanya itu, ketika meletus revolusi Fisik, sekolah-sekolah ini menyelamatkan Gereja. Banyak usaha Belanda yang dapat membawa kemajuan ekonomi untuk rakyat dibumi hangus, tapi banyak sekolah Katolik selanat. Sebab sekolah tidak dinilai sebagai kubu Belanda. Sekolah misi dirasakan sebagai milik dan sudah memikat hati rakyat.
Pada tahun 1927 jabatan Direktur Canisius ditimbangterimakan dari Rama J.H.J.L. Hoeberechts SJ kepada Rama F. Straeter SJ dengan Rama J. van Baal SJ tetap sebagai sekretaris. Karena jumlah sekolah makin bertambah, kantor administrasinya dipindahkan dari Muntilan ke Yogyakarta.

Rama Straeter adalah seorang yang tidak suka basa-basi dan tidak banyak omong. Segala urusan Kanisius dia tangani sendiri sebagai Direktur. Alat transportasi yang dipakai adalah sepeda. Dengan sepeda itu pula dia secara berkala mendatangi sekolah-sekolah yang tersebar di berbagai wilayah. Beliau juga mau terikat pada formalitas dan birokrasi. Dikalangan guru-guru Kanisius beliau dikenal karena beslit “kertas rokok”, artinya, mengangkat dan memutasikan guru jarang dengan SK resmi, tetapi cukup dengan goresan pena pada sobekan kertas notes atau rokok tingwe (nglinting dhewe). Mutasi dan pengangkatan guru juga bisa terjadi pada saat kunjungan di sekolah atau pada saat guru menghadap di pendapa pastoran. Tetapi semuanya mempunyai kekuatan seperti SK dan dipatuhi oleh segala pihak. Sudah barang tentu sistem kerjanya ini membawa kerepotan administrasi kantor. Sebab, keputusan-keputusan itu semua harus tetap dicatat pada kartu kepegawaian dan dalam map arsip guru yang bersangkutan, supaya sewaktu-waktu dapat dibuat surat keterangan resmi untuk mereka yang membutuhkannya.

Berkat kelincahan kerja Rama Straeter ini, jumlah sekolah di Yogyakarta berkembang dengan pesat sampai di pelosok-pelosok yangbelum mempunyai sekolah.
Rama Straeter juga mengadakan perubahan dalam tubuh organisasi Kanisius. Pada tanggal 31 Juli 1927 Canisius Vereniging, yang berkedudukan di Muntilan diubah menjadi Canisius Stichting dan berkedudukan di Yogyakarta. Perubahan tersebut disahkan dengan Akte Notaris Dirk. Johan Foquin de Grave tertanggal 5 Agustus 1929 no 2 di Yogyakarta.

Pada tahun 1934, setelah menyerahkan jabatan Superior Misionis ke tangan Rama J.van Baal, Rama A. van Kalken diangkat sebagai direktur Canisius Stichting. Rama C. Van der Deyl SJ sebagai sekretarisnya. Sebagai langkah pertama kantor administrasi Kanisius dipindahkan ke Muntilan, dan dengan demikian “markas besar” Kanisius kembali ke tempat kelahirannya.

Di bawah pimpinan Rama A. van Kalken jumlah sekolah bertambah pesat dan wilayah garapan di perluas, sehingga pada saat pasukan Jepang menghentikan segala kegiatan Gereja di bidang pendidikan, seluruh jumlah sekolah Kanisius 368 sekolah. Jumlah itu terdiri dari 10 sekolah menengah (Mulo dan ST) dan 348 sekolah dasar. Saat itu jumlah guru 1.400 orang dan jumlah murid 56.000. pertambahan jumlah sekolah demikian pesat terutama berkat pandangannya mempergunakan kesempatan mumpung pengurusan sekolah-sekolah masih dipegang Batavia, dan belum diserahkan kepada daerah dalam rangka desentralisasi. Pendamping Rama van Kalken yang silih berganti saat itu adalah berturut-turut: 1934: C.van der Deyl SJ, 1937: G. de Quay SJ, 1938: L. Koersen SJ, 1940: G. Viriens SJ, 1942: A. Djajasepoetra SJ.

1 komentar:

  1. Mau nanya nich.....
    kantor pusatnya kanisius dmn???

    BalasHapus