Minggu, 14 November 2010

Yayasan Kanisius (Bagian II)

C.     SELAMA PERANG DUNIA II DAN MASA REVOLUSI
Pada tanggal 9 Maret 1942, Hindia Belanda menyerah kalah pada tentara Dai Nippon. Kekuasaan diambil alih oleh tentara pendudukan Jepang. Para militer Belanda ditawan. Pasukan militer pribumi dibubarkan. Lalu disusul dengan penawanan semua pria Belanda sipil berumur 18 tahun ke atas, termasuk para flater dan bruder. Tinggal para imam yang masih bebas. Tetapi itupun hanya berlangsung sampai awal 1943. Sebab akhirnya mereka semua kena interniran. Yang masih ada, beberapa imam dan bruder pribumi. Bukan hanya itu yang dibuat Jepang. Gedung-gedung yang penting untuk kelangsungan hidup Gereja pun dibeslag. Gedung-gedung itu misalnya Seminari Tinggi di Jl. Code, Yogyakarta, Kolese Saverius di Muntilan dan Seminari Mertoyudan.
Nasib sekolah-sekolah Kanisius? Sekolah-sekolah yang berbahasa Belanda langsung ditutup. Sementara sekolah-sekolah lain yang berbahasa Jawa serentak kehilangan subsidi dan para pengasuhnya. Sekolah-sekolah terpaksa harus berdikari. Nasib sekolah tergantung pada guru-gurunya. Dalam keadaan yang serba sulit itu tidak sedikit guru yang tetap setia mengemban tugasnya dan tidak rela melihat sekolahnya mati. Tanpa gaji mereka mengajar terus dan dengan tangguh mempertahankan kelangsungan sekolahnya. Dari anak-anak mereka mendapat sekedar sokongan dalam bentuk pemberian apa adanya. Uang sekolah dibayar dengan sebuah kelapa atau beberapa potong ketela. Itupun kalau mampu dan punya. Halaman sekolah ditanami ketela, kacang dan papaya. Semua dimaksudkan untuk m>
Sebaliknya juga ada guru yang tidak kuat lagi bertahan dalam hal itu, mereka berusaha pindah ke sekolah-sekolah negeri yang dibiayai oleh penguasa, dan membiarkan sekolah diambil alih oleh Jepang, atau di bubaeringankan beban guru. Mereka ini berhasil bertahan sampai saat Yayasan Kanisius dapat bangkit kembali. Kesetiaan dan ketahanan mereka menyelamatkan baik sekolah maupun kehidupan Gereja baik yang di pelosok-pelosok maupun di kota.
Jumlah sekolah yang dialihkan pemerintah Jepang dan hilang cukup besar, juga banyak yang membubarkan diri. Umumnya sekolah-sekolah itu adalah sekolah yang masih menyewa, belum punya gedung sendiri dan di tempat-tempat yang belum ada umat katolik sama sekali. Guru perantau terpakasa pulang karena tidak dapat hidup. Di Yogyakarta saja dari 125 sekolah hanya tinggal 50 yang mempertahankan diri. Keadaan di daerah-daerah lain tidak banyak berbeda. Namun Gereja tidak dimusnahkan. Masih ada beberapa imam dan sekolah yang bertahan, menunggu saatnya untuk mekar kembali.
Sekolah-sekolah Kanisius hidup tercerai berai tidak ada yang membayar gaji guru, tak ada yang membimbing dan membina.
Saat itu Rama Adrianus Djajasepoetra SJ sebagai sekretaris dan pemimpin Yayasan dengan cerdik dan cekatan berhasil mengelabuhi Jepang dan menyelamatkan arsip Yayasan. Kendati pada tahun 1943 beliau diculik oleh dinas rahasia Kenpetai bersama dengan dua tokoh Gereja dan Yayasan lainnya, yaitu Rama F. Straeter dan Rama A van Kalken.
Perang dunia II di Pasific berakhir. Balatentara Jepang menyerah kepada pasukan sekutu 15 Agustus 1945. Dua hari berikutnya di Jakarta berlangsung upacara singkat: PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA.
Namun kemerdekaan yang sudah diproklamirkan itu mesti masih harus diperjuangkan sebab pihak Belanda masih terus berusaha menguasai kembali bumi Indonesia. Dalam situasi ini sekolah-sekolah Kanisius sementara dipisahkan satu sama lain menjadi dua kelompok. Pengelompokan tergantung pada letak sekolahnya. Yang jelas sekolah Kanisius terombang-ambing antara dua penguasa yang bertikai. Sekolah Kanisius pun menjadi dua macam. Yang berada di wilayah yang dikuasai Belanda disebut sekolah Federal. Sekolah ini mendapat subsidi dari Belanda dengan Rupiah Federal. Yang berada di wilayah RI disebut sekolah RI, atau sekolah Republik. Sekolah-sekolah Federal dipimpin oleh Rama G. Kester SJ dan kantornya bermarkas di pastoran Gedangan, Semarang, sedang sekolah Republik berkantor di Kolosani (Kolose Santo Ignatius) Yogyakarta. Sekolah-sekolah Federal tidak mengalami kesulitan financial apapun. Lain hal dengan sekolah Republik yang dipimpin oleh Rama C. Martowerdoyo SJ (1945-1947) dan Rama B. Sumarno SJ (1947-1949).
Secepatnya setelah Jepang angkat kaki, diusahakan supaya sekolah-sekolah Kanisius dibuka kembali di seluruh wilayah RI : didaerah Yogyakarta, Klaten dan Surakarta. Dengan bantuan Rama Paroki setempat secara berangsur-angsur sekolah-sekolah mulai di operasikan. Semula tanpa bantuan dari pihak manapun. Dalam usaha itu khususnya di daerah Yogyakarta terjadi rebutan gedung sekolah antara Kanisius dan Negeri. Penyebabnya adalah sebagian besar sekolah-sekolah Kanisius sudah dicaplok oleh Jepang dan dijadikan sekolah negeri. Saat rebutan itu pimpinan Kanisius dengan tekun mengadakan pendekatan dengan pihah “Wiyata Praja” atau Dinas Pendidikan Kesultanan. Hasilnya adalah ditariknya garis imaginer dari kota Yogyakarta ke barat dan ke timur. Sekolah-sekolah yang lokasinya di selatan garis tersebut sebagian besar dikembalikan kepada Kanisius, sedangkan sekolah-sekolah di sebelah utara garis tersebut dinyatakan sekolah negeri, dengan konsesi, bahwa kalau ada di kemudian hari pemerintah sudah mampu membangun gedung-gedung sendiri, gedung milik Kanisius akan diberikan kembali.
Berangsur-angsur aparat pemerintah RI mulai berfunsi. Untuk mengatur pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan (PPK) di bawah menteri Ki Mangunsarkoro. Begitu kementrian mulai berfungsi Kanisius sudah mengadakan kontak untuk diupayakan bisa memperoleh subsidi atau bantuan berupa apapun. Uasaha itu mendapatkan subsidi untuk beberapa SD dan SMP. Namun besarnya hanya 60% dari gaji guru-guru.
Di Yogyakarta sekolah-sekolah Kanisius berada di dalam kota, di Kalasan dan sekitarnya, di Bantul, Ganjuran, Gunung Kidul, di Kulon Progo dari Wates sampai Boro dan di Klepu dan sekitarnya.
Di daerah Klaten Rama A. Purwodihardja Pr lah yang berjasa besar dalam pembukaan kembali sekolah-sekolah. Dia membuka sekolah-sekolah di seluruh wilayah paroki. Di daerah Surakarta dan Baturetno sekolah-sekolah dibuka kembali oleh Rama C. Marto Werdoyo SJ. Ketika berangsur-angsur daerah RI dikuasai Belanda, sekolah-sekolah diberi kesempatan pula memasuki pool dengan subsidi penuh. Namun di Klaten Rama Pur dengan tegas menolak pool itu. Ia mempertahankan sekolah-sekolah di daerah itu sebagai sekolah republic, tanpa bantuan subsidi dari Recomba. Namun dari Kanisius Semarang Rama Pur mau menerima bantuan yang pada hakekatnya berasal dari Recomba. Wujudnya uang rupiah Federal yang sebenarnya sudah tidak berlaku di Klaten, tetapi ditukar dulu menjadi uang RI, yang saat itu disingkat ORI. Demikian pula sekolah-sekolah di daerah gerilya di Kulon Progo dan kantor cabang Yogyakarta. Dalam hal ini patut dikenang jasa Br. Servas F.I.C yang menjadi penghubung antara sekolah-sekolah di daerah gerilya di Kulon Progo dan Kantor Cabang Yogyakarta, termasuk menganut uang Federal yang telah ditukar dengan unag ORI melalui garis demarkasi.
Pada tanggal 29 Juni 1949 pasukan-pasukan Belanda beserta segala aparat pemerintahnya meninggalkan Yogyakarta disusul pengakuan kedaulatan Negara Republik Indonesia di seluruh wilayah Nusantara. Ini merupakan hasil Konperensi Meja Bundar di Den Haag pada tanggal 2 November 1949. Yang menjadi pemimpin pada tahun itu (1949) di Yogyakarta adalah Rama B. Schouten. Kepemimpinannya hanya berlangsung sebentar, sebab kemudian beliau ditarik ke Centraal Missie Bureau (CMB) di Jakarta. Dalam kekosongan itu Bpk. X. Karyadi mengisinya dan berupaya supaya segalanya bisa berjalan terus. Tidak lama kemudian Rama A. Djajasepoetra SJ ditunjuk sebagai pengganti. Namun itu pun tidak terlalu lama, sebab kemudian beliau ditarik ke Jakarta.
Mengenai guru Pool dan guru Republik masih ada cerita yang memilukan. Guru-guru Pool, yang diangkat oleh pemerintah boneka di kemudian hari mendapat nasib yang lebih beruntung dari pada guru yang turut bergerilya dan non-ko. Guru yang turut bergerilya dan non-ko mengalami nasib buruk yang sangat merugikan khususnya jaminan pensiun yang diberikan oleh Pemerintah RI. Untuk guru Pool di kemudian hari diterapkan segala peraturan dan ketentuan undang-undang yang berlaku untuk pegawai Negeri. Mereka diberlakukan sebagai pegawai Negeri, sedang guru non-Pool dan non-ko diperlakukan sebagai guru swasta subsidi. Mereka tiasak mendapat pensiun penuh berdasarkan UU 11/1969. Ironis sekali bahwa bagi mereka diterapkan Pensioen Regelement Bysondere Leerkrachten tahun 1932, yang sudah usang dan diskriminatif waktu itu. Dan lebih celaka lagi dengan penerapan ordonasi colonial itu, para tenaga non guru misalnya TU dan penjaga sekolah dilepas begitu saja tanpa pensiun. Kanisius dari semula berjuang supaya ketidak adilan ini, khususnya untuk guru-guru di Yogyakarta dan Klaten, dapat dihapus namun mengalami kegagalan sampai saat Bp. Sumarlin diangkat menjadi Mentri Pendaya Gunaan Aparatur Negara. Pada tahun 1978 semua guru subsidi diangkat menjadi Pegawai Negeri.

D.      MASA TRANSISI DAN MASA REORGANISASI
Setelah kekuasaan Belanda di bumi Indonesia dipatahkan, ibu koata RI dipindahkan dari Yogyakarta ke Jakarta, dan sekolah-sekolah Kanisius bersatu lagi dibawah satu komando, yang bermarkas di Semarang. Ketika itu yang memegang pucuk pimpinan adalah Rama K. Looymans SJ. Beliau ternyata adalah seorang diplomat yang ulet dan cekatan serta berbakat dalam organisasi dan administrasi. Seseorang dengan kualifikasi inilah yang dibutuhkan untuk menghadapi masalah yang pada tahun 1949 belum kentara, tetapi pada tahun 1950 muncul.
Mulai bulan Januari 1950 Pemerintah RI menghapus status Pool (bersubsidi) untuk semua sekolah swasta, yang diberikan oleh pemerintah Federal. Penghapusan status itu terhitung mulai tahun ajaran baru 1950-1951. Dengan demikian sekolah-sekolah Kanisius kembali menjadi sekolah swasta penuh. Guru-guru yang ingin mempertahankan statusnya sebagai guru Pool (pegawai negeri) dipersilahkan segera mendaftarkan diri pada PPK untuk dilimpahkan ke sekolah negeri, sedangkan guru yang tidak mendaftarkan diri karena ingin tetap bekerja di sekolah Kanisius kehilangan haknya sebagai pegawai negeri.

Yayasan Kanisius kembali menghadapi ujian yang berat. Guru-guru pun dihadapkan pada dilema yang tidak kurang beratnya. Guru-guru harus memilih mempertahankan status Poolnya dengan pindah ke Negeri, atau memilih tetap menjadi guru Kanisius dengan gaji yang belum dapat sepenuhnya dijamin oleh Yayasan. Guru-guru yang semasa Federal kembali pulang kandang kini lari lagi dengan dalih memenuhi anjuran Pemerintah, tetapi sesungguhnya untuk menyelamatkan gaji dan hak pensiun sebagai pegawai negeri.
Untuk menyelamatkan sekolah-sekolah dari kehancuran dan menyesuaikan Yayasan dengan situasi demikian itu Rama Looymans dengan cepat mengambil langkah-langkah pengamanan dan konsolidasi.

1.      Perubahan Nama
Sebagai langkah pertama nama Canisius Stichting diganti menjadi Yayasan Kanisius. Perubahan nama ini beberapa tahun kemudian disahkan secara Yuridis dengan Akte Notaris Tan A Sioe pada tanggal 1 Maret 1954 no 2, dengan klausul bahwa perubahan tersebut berlaku surut sejak 15 Januari 1950. Bersama dengan perubahan ini, anggaran dasar diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.
2.      Mencari Pinjaman-pinjama Uang
Untuk melangsungkan kehidupan sekolah-sekolah, terutama yang terletak di daerah, dari kiri kanan dicari pinjaman untuk membayar gaji guru-guru yang tetap setia dan bertahan sebagai guru Kanisius. Namun terpaksa dijalankan juga kebijakan darurat yang tidak dapat dihindari. Untuk sementara waktu sebagian gaji ditangguhkan. Yayasan hanya dapat membayar gaji pokok saja tanpa tunjangan-tunjangan. Situasi ini terpaksa berlangsung sampai 2 tahun lamanya. Namun yang mengharukan ialah bahwa jumlah guru yang solider dan memilih menderita bersama Kanisius cukup banyak.
3.      Mencari Guru Pengganti
Kekosongan di sekolah-sekolah yang ditinggalkan oleh guru-guru yang lari ke negeri harus secepatnya diisi. Dalam hal ini Kanisius banyak dibantu oleh tamatan kursus OVO do Ambarawa. Sejak 1947 bekas Normaal School membuka kursus/penataran yang lamanya 6 bulan, untuk menjadi guru Sekolah Rakyat. Kursus ini disebut OVO (Oplesiding Volks Onderwyzers). Pada saat itu Rama Looymans menjabat pastor Kepala di Ambarawa dan dibantu oleh Br. FX. Wuryaatmadja SJ. Kursus ini dalam perkembangan selanjutnya menjadi SGB 4 tahun dengan asrama sebagai pengganti Normaalschool jaman dulu.
4.      Usaha Mendapat Supsidi Pemerintah
Sekolah yang ingin mendapat bantuan/subsidi dari Pemerintah dipersilahkan mengajukan berkas permohonannya ke Pusat melalui hirarki Daerah. Sulitnya bahwa peraturan pelaksanaanya saat itu belum ada, sehingga terjadi kesimpangsiuran di mana-mana. Kesulitan yang kedua yang dialami ialah untuk menerobos pertentangan yang berkecamuk pada instansi-instansi antara pegawai federal yang dulu koperatif dengan Belanda dan pegawai RI. Sulit dapat diketahui dan membedakan keduanya. Situasi ini membutuhkan pendekatan yang penuh diplomasi. Namun toh akhirnya satu per satu turunlah beslit-beslit subsidi sehingga lambat laun kegoncangan-kegoncangan dapat diatasi dan sekolah-sekolah mencapai ketenangan dan kembali mengemban cita-cita Gereja. Sekolah-sekolah semua dapat dipertahankan, lolos dari kehancuran. Tidak satu pun yang terpaksa harus tutup.

Setelah bermacam-macam percobaan dilalui, Rama K. Looymans mulai mengarahkan pandanganya kedepan. Jumlah sekolah yang dimiliki Yayasan Kanisius sangat banyak. Hampir semua sekolah Katolik di Keuskupan berada di bawah naungan Yayasan Kanisius. Yayasan Kanisius menjadi satu-satunya Yayasan Pendidikan yang ada. Padahal masih banyak daerah yang belum terjangkau oleh pendidikan Katolik. Menurut visi Rama Looymans jumlah sekolah akan lebih cepat berkembang kalau di samping Kanisius didirikan Yayasa-yayasan pendidikan lain yang mendampingi dan memikul sebagian beban dan tanggungjawab.
Mulailah beliau mempersiapkan suatu reorganisasi dengan tujuan mendirikan Yayasan-yayasan baru yang mau diberi sejumlah sekolah untuk dikelola sendiri dan diperkembangkan lebih lanjut, supaya bersama sama dapat menghadapi dan memenuhi kebutuhan umat dan Gereja yang terus meningkat. Begitulah berturut-turut didirikan Yayasan-yayasan seperti: Marsudirini, Pangudi Luhur, Keluarga, Tarakanita, St. Yusuf, Loyola, De Britto, Kebon Dalem, Marganingsih dll.
Reorganisasi ini membawa dampak positip bagi Gereja, umat dan masyarakat. Tetapi bagi kanisius sendiri merupakan pengorbanan yang dampak negatipnya pada saat itu belum diperhitungkan atau diduga. Bagi Kanisius perubahan ini mengantar ke ambang kebangkrutan kira-kira lima belas tahun kemudian. Yang jelas Kanisius serentak kehillangn sekolah-sekolahnya yang terbaik di kota-kota besar, yang penghasilanya paling tinggi. Yang tersisa adalah sekolah-sekolah di pelosok-pelosok yang miskin. Beberapa sekolah Kanisius yang berada di kota-kota umumnya terletak dikampung-kampung dan dikunjungi oleh rakyat kecil. Dengan demikian Yayasan Kanisius menjadi kancah pendidikan dan pelajaran untuk rakyat kecil di kota dan desa. Semula masa depan Kanisius kelihatan cerah karena merupakan sekolah bersubsidi. Selain itu Gereja berkembang dengan pesat terutama di desa-desa. Lagi pula inflasi dan devaluasi rupiah belum mengancam kesejahteraan masyarakat. Mau khawatir apa? Pada masa yang lampau Kanisius juga mampu mendirikan dan memelihara ratusan sekolah di daerah minus. Begitulah kiranya pemikiran rama Looymans, yang didukung oleh Rama G. Kester yang pada saat itu sudah diangkat menjadi Superior Miissionis. Uskup, Rama Kanjeng A. Soegijapranata SJ juga memberi berkat dan restunya. Dan dengan demikian untuk Kanisius “misi”nya menjadi jelas ialah ‘mengkhususkan diri untuk melayani rakyat kecil di desa maupun kota’.

Minggu, 10 Oktober 2010

YAYASAN KANISIUS (Bagian I)

Di Suatu Masa………
Pada tanggal 21 Oktober 1918, di kediamannya di Cipanas, Gubernur Jenderal Hindia Belanda menandatangani akte pendirian Canisius Vereniging dan dengan demikian memberikan status hukum resmi kepada Vereniging tersebut.
Dalam status Vereniging tersebut ditulis sebagai tujuan (art.2) yaitu mendirikan dan menyelenggarakan badan amal kristiani, khususnya dengan sekolah-sekolah, rumah sakit, dan seterusnya. Tanggal itu dipakai sebagai permulaan dari karya pendidikan Kanisius. Walaupun sudah ada beberapa sekolah Kanisius yang didirikan sebelum Vereniging itu lahir.
A. PENGANTAR
Yayasan Kanisius adalah lembaga pendidikan yang menyelenggarakan sekolah-sekolah mulai dari TK sampai dengan SLTA.
Sekolah-sekolah tersebut tersebar di wilayah Keuskupan Agung Semarang. Kebanyakan berada di daerah pedesaan. Beberapa yang berada di kota ditemukan di kampung-kampung, tempat pemukiman rakyat biasa.

Yayasan Kanisius merupakan lembaga pendidikan tertua di Jawa. Didirikan di Muntilan pada tahun 1918 sebagai “CANISIUS VERENIGING”, yang berarti Perkumpulan Kanisius. Selanjutnya pada tahun 1927 karena alasan-alasan praktis diubah statusnya menjadi “CANISIUS STICHTING”, yang berarti YAYASAN KANISIUS.

Pada saat didirikan (1918) Yayasan Kanisius menjadi milik Vikariat Apostolik Batavia. Pada tahun 1940 diserahterimakan kepada Vikarikat Apostolik Semarang. Ketika itu Vikarikat Apostolik Semarang baru saja dibentuk dengan Mgr. Albertus Soegija Pranata SJ sebagai Vikaris Apostolisnya. Sejak didirikannya Yayasan ini dipercayakan kepada Serikat Yesus.

Yang mendirikan dan “membidani” kelahirannya ialah Rama Fransiskus van Lith SJ. Seirama dengan perkembangan Yayasan Kanisius berkembang pula Gereja ke pelosok-pelosok wilayah Keuskupan Agung Semarang.

B. AWAL MULA
Pada tahun 1927, Rama F. van Lith menerima tugas perutusan dari Superior Missionis untuk mengembangkan Gereja di kalangan pribumi Jawa. Dalam mengemban perutusan itu, Rama F. van Lith memilih Muntilan sebagai induk pangkalnya. Sebuah rumah di dekat jalan besar di pecinan, Muntilan disediakan bagi Rama van Lith untuk menjalankan karyanya. Namun tidak lama kemudian beliau membeli sebuah rumah dengan halaman milik seorang Jawa di desa Semampir. Rama van Lith memilih demikian karena merasa lebih cocok tinggal di tengah orang-orang Jawa.

Rama van Lith bekerja dengan mengunjungi daerah-daerah yang tersebar di daerah Kedu di sekitar Muntilan, di Kulon Progo, Yogyakarta serta di Bedono dan Ambarawa. Hasilnya mengecewakan. Sebab ternyata katekis di Muntilan seorang pecandu dan penipu. Katekis itu diserahi tugas membeli tanah untuk kuburan katolik, tapi uangnya digunakan untuk membeli sawah bagi dirinya sendiri. Sementara katekis yang ada di Keringan, dekat Magelang memelihara dua isteri.

Pengalaman tersebut mendorong Rama van Lith untuk mengubah strategi : mendidik guru. Sebab menurut beliau, guru adalah tokoh masyarakat desa yang paling berpengaruh dan berwibawa. Maka pada tahun 1904, Rama van Lith mendirikan Normaalschool, untuk mendidik calon guru sekolah tingkat II (Standaardschool). Pada tahun 1906 disusul H.I.K putra (6tahun) untuk mendidik calon guru tingkat I sekolah dasar (H.I.S. dan H.C.S) 7 tahun. Kedua sekolah tersebut bertempat di Semampir, Muntilan. Selanjutnya H.I.K. 6 tahun berkembang menjadi Kolese Yesuit pertama di Indonesia dengan nama Kolese Xaverius. Pandangan Rama van Lith yang jauh kedepan mengenai pendidikan guru ini mendorong beliau meminta kepada Suster-suster St. Fransiskus untuk mendirikan sekolah pendidikan guru putri. Maka pada tahun 1908 dibuka asrama putri Mendut. Asrama itu lambat laun berkembang menjadi H.I.K putri, yang diresmikan pada tahub 1916. Antara kedua sekolah itu diusahakan kontak terbatas dan terbina. Kunjungan dan kontak yang terbina itu di kemudian hari ternyata bisa menghasilkan banyak pasangan suami isteri yang berbahagia.

Guru-guru lulusan Muntilan dan Mendut menjadi ragi pertama yang merasuk dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Dari Kolese Xaverius lahir juga tokoh-tokoh yang memiliki peranan pada panggung nasional. Beberapa nama yang bisa kita sebut : Bp. Ig. Kasimo, Bp. Frans Seda, Bp. H.J. Soemarto, Bp.J. Soedjasmin. Kolese Xaverius juga menghasilkan tokoh seperti Mgr. Albertus Soegiyapranata SJ, Justinus Kardinal Darmojoewono, Mgr. Adrianus Djajasepoetra SJ, Rama B. Soemarno SJ, Br. Servaas FIC.
Pada tahun 1906 didirikan “Vereniging (perkumpulan) R.C. Kweekschool”. Perkumpulan yang berkedudukan di Muntilan ini mengelola NormaalSchool dan H.I.K putra Muntilan, H.I.K putri Mendut dan Normaalschool putra dan putri di Ambarawa, beserta sekolah-sekolah latihanya. Normaalschool putra di Ambarawa dikelola oleh Yesuit dan menjadi Kolese Santo Yusup. NormalSchool putri dikelola oleh Suster-suster St. Fransiskus.

Rama van Lith belum puas. Menurut Rama van Lith setelah Gereja memiliki sekolah pendidikan guru, sudah matanglah untuk juga mendirikan sekolah-sekolah Katolik. Memang, alumni Muntilan dan Mendut tersebar di belbagai sekolah-sekolah Negeri. Pengaruh kekatolikan mereka jelas ada, tapi masih terbatas. Rama yang dijiwai oleh semangat “magis” (yang lebih baik) bermaksud mengembangkan bakat mereka sebagai pendidik yang lebih leluasa. Semangat itulah yang melahirkan usaha mendirikan sekolah-sekolah katolik.

Jadi dengan mendirikan sekolah-sekolah Katolik Rama F.van Lith bermaksud:
1. Menabur Sabda Kristus di dalam masyarakat Jawa melalui guru-guru yang digembleng sendiri. Rama F.van Lith memiliki keyakinan bahwa melalui pendidikan di sekolah Katolik pengembangan iman Katolik akan berjalan lebih efektif dan lebih berhasil, terutama dalam hati anak didik. Tetapi unit sekolah juga bisa member pengaruh pada orang tua. Dan itu berarti adalah masyarakat sendiri.

2. Memberi kesempatan belajar kepada anak-anak rakyat kecil di desa dan di kota, yang tidak mendapatkan kesempatan belajar. Rama van Lith prihatin melihat keterbelakangan pendidikan masyarakat Jawa, yang pada waktu itu masih kurang sekali mendapar perhatian dari Pemerintah Hindia Belanda. Sementara dalam diri anak sendiri ada hasrat untuk mendapat kesempatan menimba ilmu dan pengetahuan, yang bisa mengentaskan diri dari belenggu keterbelakangan.


Untuk mewujudkan kedua tujuan itu pada tanggal 31 Agustus 1918 di Muntilan didirikan “CANISIUS VERENIGING” atau Perkumpulan Kanisius. Rama J.H.J.L. Hoeberechts SJ, manjadi ketua dan Rama F. van Lith SJ sebagai sekretarisnya. Rama J.H.J.L. Hoeberechts SJ pada saat itu menjabat Superior Missionis serikat Yesus (mei 1918 – Juni 1927). Pengesahan Pemerintah diperoleh dengan keputusan Gubernur Jendral Hindia Belanda di Cipanas pada tanggal 21 Oktober 1918 yang dicantumkan dalam Lembaran Negara 1918 no. 11, serta diumumkan dalam Javasche Courant pada tanggal 3 Desember 1918 no 97.

Selanjutnya direncanakan untuk membuka 100 sekolah Katolik, tersebar di Muntilan dan sekitarnya, di daerah Yogyakarta, Klaten, Surakarta, Ambarawa dan Semarang.

Pada tahun 1925, Rama van Lith terpaksa ditugaskan ke Semarang karean kesehatannya. Sebagai sekretaris beliau diganti oleh Rama J. Van Baal SJ. Rama van Lith meninggal dunia di pastoran Gedangan pada tanggal 9 Januari 1926 pagi hari. Hari itu juga sore hari, jenasah dimakamkan diantar oleh ribuan alumni dan umat, di Muntilan. Dalam Claverbond Frater A. Soegiyapranata menulis in Memoriam (untuk dikenang) dan mengatakan bahwa Rama van Lith berhasil menyusup dalam jiwa orang Jawa karena cintanya yang besar dan pengertianya yang mendalam.

Pada saat Rama F. van Lith meninggal seolah-sekolah Kanisius sudah berjumlah 74 sekolah. Semuanya merupakan tingkat sekolah dasar.

Berkat visi dan perjuangan Rama van Lith, Gereja Indonesia pada umumnya dan di Pulau Jawa khususnya mendapat coraknya yang menentukan perkembangannya sampai sekarang. Gereja berkembang terutama karena dengan melalui sekolah-sekolahnya. Tidak hanya itu, ketika meletus revolusi Fisik, sekolah-sekolah ini menyelamatkan Gereja. Banyak usaha Belanda yang dapat membawa kemajuan ekonomi untuk rakyat dibumi hangus, tapi banyak sekolah Katolik selanat. Sebab sekolah tidak dinilai sebagai kubu Belanda. Sekolah misi dirasakan sebagai milik dan sudah memikat hati rakyat.
Pada tahun 1927 jabatan Direktur Canisius ditimbangterimakan dari Rama J.H.J.L. Hoeberechts SJ kepada Rama F. Straeter SJ dengan Rama J. van Baal SJ tetap sebagai sekretaris. Karena jumlah sekolah makin bertambah, kantor administrasinya dipindahkan dari Muntilan ke Yogyakarta.

Rama Straeter adalah seorang yang tidak suka basa-basi dan tidak banyak omong. Segala urusan Kanisius dia tangani sendiri sebagai Direktur. Alat transportasi yang dipakai adalah sepeda. Dengan sepeda itu pula dia secara berkala mendatangi sekolah-sekolah yang tersebar di berbagai wilayah. Beliau juga mau terikat pada formalitas dan birokrasi. Dikalangan guru-guru Kanisius beliau dikenal karena beslit “kertas rokok”, artinya, mengangkat dan memutasikan guru jarang dengan SK resmi, tetapi cukup dengan goresan pena pada sobekan kertas notes atau rokok tingwe (nglinting dhewe). Mutasi dan pengangkatan guru juga bisa terjadi pada saat kunjungan di sekolah atau pada saat guru menghadap di pendapa pastoran. Tetapi semuanya mempunyai kekuatan seperti SK dan dipatuhi oleh segala pihak. Sudah barang tentu sistem kerjanya ini membawa kerepotan administrasi kantor. Sebab, keputusan-keputusan itu semua harus tetap dicatat pada kartu kepegawaian dan dalam map arsip guru yang bersangkutan, supaya sewaktu-waktu dapat dibuat surat keterangan resmi untuk mereka yang membutuhkannya.

Berkat kelincahan kerja Rama Straeter ini, jumlah sekolah di Yogyakarta berkembang dengan pesat sampai di pelosok-pelosok yangbelum mempunyai sekolah.
Rama Straeter juga mengadakan perubahan dalam tubuh organisasi Kanisius. Pada tanggal 31 Juli 1927 Canisius Vereniging, yang berkedudukan di Muntilan diubah menjadi Canisius Stichting dan berkedudukan di Yogyakarta. Perubahan tersebut disahkan dengan Akte Notaris Dirk. Johan Foquin de Grave tertanggal 5 Agustus 1929 no 2 di Yogyakarta.

Pada tahun 1934, setelah menyerahkan jabatan Superior Misionis ke tangan Rama J.van Baal, Rama A. van Kalken diangkat sebagai direktur Canisius Stichting. Rama C. Van der Deyl SJ sebagai sekretarisnya. Sebagai langkah pertama kantor administrasi Kanisius dipindahkan ke Muntilan, dan dengan demikian “markas besar” Kanisius kembali ke tempat kelahirannya.

Di bawah pimpinan Rama A. van Kalken jumlah sekolah bertambah pesat dan wilayah garapan di perluas, sehingga pada saat pasukan Jepang menghentikan segala kegiatan Gereja di bidang pendidikan, seluruh jumlah sekolah Kanisius 368 sekolah. Jumlah itu terdiri dari 10 sekolah menengah (Mulo dan ST) dan 348 sekolah dasar. Saat itu jumlah guru 1.400 orang dan jumlah murid 56.000. pertambahan jumlah sekolah demikian pesat terutama berkat pandangannya mempergunakan kesempatan mumpung pengurusan sekolah-sekolah masih dipegang Batavia, dan belum diserahkan kepada daerah dalam rangka desentralisasi. Pendamping Rama van Kalken yang silih berganti saat itu adalah berturut-turut: 1934: C.van der Deyl SJ, 1937: G. de Quay SJ, 1938: L. Koersen SJ, 1940: G. Viriens SJ, 1942: A. Djajasepoetra SJ.

Senin, 04 Oktober 2010

Pengumuman Yayasan Kanisius Cab. Semarang

Pengumuman

 
Email               : ykpusat@gmail.com
Facebook        : kanisius1918@gmail.com
Blogger          : yayasan-kanisius.blogspot.com
Mulai bulan Oktober 2010
Yayasan Kanisius Cabang Semarang – memberikan tambahan pinjaman untuk pembelian laptop  bagi guru-guru dengan catatan pinjaman tidak melebihi plafon yang telah ditentukan yaitu :
Pegawai tetap Yayasan : Rp 17.500.000
Pegawai tetap Yayasan (Suami Istri) : Rp 25.000.000
Pinjaman diwujudkan dalam bentuk barang sesuai dengan merk dan harga yang diinginkan oleh guru (antara Rp 5 s/d Rp 7 juta), tidak dipotong 10 % dan bunga seperti simpan pinjam yayasan (lihat data di bawah).
Pengajuan pinjaman seperti dalam simpan pinjam Yayasan.
Yayasan akan mengarahkan pada satu merek dan tipe dipilih yang paling banyak.
Merk  dibawah ini adalah merk yang umum dipasaran.


LENOVO
1
2
3
4
Procesor (GHz)
Core2 Duo T6600
Dual CoreT4400
Dual CoreT4400
Core i3-350M
RAM (GB)
2GB DDR3
2GB DDR2
2GB DDR3
2GB DDR3
HDD (GB)
320
250
320
320
DVD
DVD RW
DVD RW
DVD RW
DVD RW
Monitor
14,1’’
14,1’’
14,1’’
14,1’’
Web Cam (MP)
Y
Y
Y
Y
Wifi
Y
Y
Y
Y
Bluetooth
Y
Y
Y
Y
Color
Black
Black
Black
Black
OS (Op.System)
Non Os
Non Os
Non Os
Non Os
Harga
Rp 6.400.000,-
Rp 5.100.000,-
Rp 4.900.000,-
Rp 6.600.000,-





THOSIBA
1
2
3
4
Procesor (GHz)
Core2 Duo T6570
Dual Core T4200
Dual Core T4500
Dual Core T44
RAM (GB)
2 GB DDR2
1 GB DDR2
1 GB DDR2
1 GB DDR3
HDD (GB)
250
320
320
250
DVD
DVD RW
DVD RW
DVD RW
DVD RW
Monitor
14,1’’
14,1’’
14,1’’
14,1’’
Web Cam (MP)
Y
Y
Y
Y
Wifi
Y
Y
Y
Y
Bluetooth
Y
Y
Y
Y
Color
Black
Black
Black
Black
OS (Op.System)
Non Os
Non Os
Non Os
Non Os
Harga
Rp 6.500.000,-
Rp 5.900.000,-
Rp 5.500.000,-
Rp 4.200.000,-





ACER
1
2
3
4
Procesor (GHz)
Core2 Duo T6600
Dual Core
Core i3-330M
Cor i3-330M
RAM (GB)
1 GB DDR3
1GB DDR2
2 GB DDR3
1 GB DDR3
HDD (GB)
320
320
320
320
DVD
DVD RW
DVD RW
DVD RW
DVD RW
Monitor
14,1’’
14,1’’
14,1’’
14,1’’
Web Cam (MP)
Y
Y
Y
Y
Wifi
Y
Y
Y
Y
Bluetooth
Y
Y
Y
Y
Color
Black
Black
Black
Black
OS (Op.System)
Non Os
Win7 Stater
Win7 H Basic
Non Os
Harga
Rp 6.000.000,-
Rp 5.000.000,-
Rp 6.500.000,-
Rp 5.500.000,-





HP
1
2
3
4
Procesor (GHz)
Core2 Duo T6570
Dual Core T4400
Core i3-350M
Core2DuoT6570
RAM (GB)
1GB DDR3
1GB DDR2
2GB DDR3
1GB DDR3
HDD (GB)
320
160
320
320
DVD
DVD RW
DVD RW
DVD RW
DVD RW
Monitor
14,1’’
14,1’’
14,1’’
14,1’’
Web Cam (MP)
Y
Y
Y
Y
Wifi
Y
Y
Y
Y
Bluetooth
Y
Y
Y
Y
Color
Black
Black
Black
Black
OS (Op.System)
WIN Stater
Non Os
Non Os
Non Os
Harga
Rp 5.700.000,-
Rp 6.700.000,-
Rp 6.400.000,-
Rp 5.200.000,-





DELL
1
2
3
4
Procesor (GHz)
Core2 Duo T6600
Dual Core T4500
Core i3-330M
Core2 Duo T6670
RAM (GB)
2GB
2GB DDR2
2GB DDR3
4GB DDR3
HDD (GB)
320
320
320
320
DVD
DVD RW
DVD RW
DVD RW
DVD RW
Monitor
14,1’’
14,1’’
14,1’’
14,1’’
Web Cam (MP)
Y
Y
Y
Y
Wifi
Y
Y
Y
Y
Bluetooth
Y
Y
Y
Y
Color
Black,Red
Black, Green
Black, Pink, Red
Black, Red
OS (Op.System)
Win7 H Basic
Non Os
Non Os
Non Os
Harga
Rp 6.400.000,-
Rp 4.900.000,-
Rp 5.800.000,-
Rp 6.800.000,-






*Pilih dan berikan alasan misal: G.9400 : Lenovo 4 alasan Procesor sudah i3-350M
 (* isi pada bagian komentar)
Harga sewaktu waktu berubah (harga per oktober 2010)